Kamis, 23 Januari 2014

KETIKA KEAKRABPAN INI TERJALIN

           Selamat malam kawan, skitar 1 tahun saya tidak nulis di blog, akhirnya saya kembali untuk menulis di blog. Pada kali ini saya akan bercerita atau menulis pengalaman saya tentang “ketika keakrabpan ini terjalin” pada tahun 2013. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menulis pengalaman ini setelah saya diberi hadiah keris oleh Om saya yaitu Om Siwandhana. “nyoh lhe, keris iki nggo kowe, keris iki kenang-kenangan nggo kowe seko aku, dadi yen sesok aku wes mati eling !  keris iki seko aku. Tok rumat apik-apik yo ?! ojo didol !” diterjemahkan pada bahasa Indonesia “ini keris buat kamu, keris ini kenang-kenangan dari saya buat kamu, jaga dan rawat baik-baik ya ?! jangan dijual !”  
 
 Keris yang diberikan Om Siwa kepada saya yaitu Kyai Sembono yang katanya watak dan prilakunya sama seperti saya yaitu pendiam dan tidak buat aneh-aneh. Kyai Sembono selalu memakai blangkon dan surjan. Dengan pamor “beras wutah” yang artinya kerejeken atau banyak rejeki. Dengan pemberian keris itu saya ingin menuliskan pengalaman saya sebagai berikut.

# KETILANG POLISI
Pada suatu hari saya dan teman saya Duwek pergi ke CURVA SUD SHOP mengendarai sepeda motor boncengan saya yang didepan. Sekitar pukul 14.00 Kita berangkat, kita berjalan santai-santai saja. Lalu ketikan di perempatan bangjo Jl. Kaliurang Km. 5 “duugh..” dipikran saya, saya sempat bingung mau belok ke kiri atau lurus jalan terus, lalu saya bertanya pada Duwek “wek iki arep belok opo lurus ?”  Duwek hanya menjawab “yo karepmu” saya pun langsung mengambil keputusan untuk belok ke kiri, namun belum jauh dari perempatan tersebut saya balik ke perempatan bangjo  tadi dan mengambil keputusan untuk lurus. Belum jauh dari perempatan tiba-tiba ada polisi yang menghadang dan para pengendara speda motor dimasukkan dalam komples ruko, di situ para pengendara bermotor ditanya perlengkapannya, karena saya belum 17th belum mempunyai SIM saya pun ketilang, STNK di bawa polisi dan ditanya mau “mau bayar 50rb di sini atau besok di pengadilan ?” karena baru pertama kali ketilang teman saya pun lagsung memberi 50rb kepada polisi dan STNK nya pun dikembalikan dan kami melanjutkan perjalanan. “sukur we, wes tak kandhani kok ngeyel” mungkin itu ujar yang momong saya. Di situ saya sudah dikasih tau oleh yang momong saya namun saya tidak laksanakan, sama seperti ketika orang lain memberi tahu kepada kita yang benar namun kita tidak melaksanakan.




# HAPEKU DOLAN SEMINGGU
            Ketika kegiatan pramuka di sekolah berlangsung, kegiatan berjalan lancar dan seperti biasanya, karena saya ketua sangga dan sayapun harus berada di barisan depan. Semua tas anggota pramuka berada di belakang barisan, jadi ketika baris-berbaris kita tidak bisa melihat keadaan tas. Ketika saya disuruh untuk mengambil bolpen di tas saya, sayapun langsung menuju ke belakang dan mengambil bolpen sekaligus mengecek apakah hape saya masih ada. Lalu saya balik kebarisan depan selang bberapa menit “duugh...” saya membayangkan bahwa hape saya tidak ada di dalam tas, di situpun saya merasa kehilangan namun saya cuek “ahh.. yoben mung bayangan tok” kegiatan pramuka sudah selesai, lalu saya langsung ngecek apakah hape saya masih ada. Ketika saya cek ternyata bayangan tadi benar bahwa hape saya akan hilang “faak...” Tiba-tiba saya membayangkan bahwa yang mengambil hape saya itu Si Kae aku pun pulang dan bilang kepada ibu saya bahwa hapeku hilang lalu ditanya “lha kok iso ilang ki kepiye ?” aku menjawab seperti uraian di atas. Bapak saya juga bertanya persis sperti ibu saya, dan saya jawab sama seperti uraian di atas. Pada malam hari ketika saya tidur, saya mimpi bahwa besok aku megang hape itu lagi. Keesokan harinya saya diajak bapak saya untuk liat-liat hape, sayapun disuruh milih mau yang mana (second)  “wahh rasah pak, aku tak nggo hapene emas wae” di sini saya fokus pada mimpi malam tadi. Satu minggu berlalu hapeku kembali ke tangan saya dengan isi album foto-foto bugil dan SIM CARD hilang. “maling’e goblok pekok we” ujar saya.

 Dengan kembalinya hapeku ini aku bercerita kepada bapak dan ibu bahwa malam setelah kejadian itu saya bermimpi bahwa saya memegang hape itu lagi, jadi saya tidak mau ketika ditawari untuk memilih hp. Dengan kejadian ini pun saya malas untuk berangkat pramuka jadi sering bolos.

            Dengan 2 cerita di atas bahwa yang momong kita itu sebenarnya itu ada dan nyata, hal ghaib tanpa wujud dan suara melainkan melalui pemikiran, bayangan, hati dan bisa menggunakan hal yang lainnya. Intinya ketika batin atau pikiran kita tiba-tiba “duugh..” itu akan terjadi secara nyata. “wooh... kuwi wes apik, umurmu seng iseh semono kowe wes akrab karo lhe momong kowe”  ujar Om Siwandhana. Jadi keakrabpan kalian dengan yang momong kalian itu juga tidak menentu kpan keakrabpanya akan terjalin.


Selamat malam kawan !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar