Selamat malam kawan, skitar 1 tahun saya tidak nulis di
blog, akhirnya saya kembali untuk menulis di blog. Pada kali ini saya akan
bercerita atau menulis pengalaman saya tentang “ketika keakrabpan ini terjalin” pada tahun 2013. Entah kenapa tiba-tiba
saya ingin menulis pengalaman ini setelah saya diberi hadiah keris oleh Om saya
yaitu Om Siwandhana. “nyoh lhe, keris iki nggo kowe, keris iki
kenang-kenangan nggo kowe seko aku, dadi yen sesok aku wes mati eling ! keris iki seko aku. Tok rumat apik-apik yo ?!
ojo didol !” diterjemahkan pada bahasa Indonesia “ini keris buat kamu, keris ini kenang-kenangan dari saya buat kamu,
jaga dan rawat baik-baik ya ?! jangan dijual !”
Keris yang diberikan Om Siwa kepada saya yaitu Kyai Sembono yang katanya watak dan prilakunya sama seperti saya yaitu pendiam dan tidak buat aneh-aneh. Kyai Sembono selalu memakai blangkon dan surjan. Dengan pamor “beras wutah” yang artinya kerejeken atau banyak rejeki. Dengan pemberian keris itu saya ingin menuliskan pengalaman saya sebagai berikut.
Keris yang diberikan Om Siwa kepada saya yaitu Kyai Sembono yang katanya watak dan prilakunya sama seperti saya yaitu pendiam dan tidak buat aneh-aneh. Kyai Sembono selalu memakai blangkon dan surjan. Dengan pamor “beras wutah” yang artinya kerejeken atau banyak rejeki. Dengan pemberian keris itu saya ingin menuliskan pengalaman saya sebagai berikut.
#
KETILANG POLISI
Pada suatu hari saya dan
teman saya Duwek pergi ke CURVA SUD
SHOP mengendarai sepeda motor boncengan saya yang didepan. Sekitar pukul 14.00 Kita
berangkat, kita berjalan santai-santai saja. Lalu ketikan di perempatan bangjo
Jl. Kaliurang Km. 5 “duugh..” dipikran saya, saya sempat bingung mau belok ke
kiri atau lurus jalan terus, lalu saya bertanya pada Duwek “wek iki arep belok opo lurus ?” Duwek hanya menjawab “yo karepmu” saya pun langsung mengambil keputusan untuk belok ke
kiri, namun belum jauh dari perempatan tersebut saya balik ke perempatan
bangjo tadi dan mengambil keputusan
untuk lurus. Belum jauh dari perempatan tiba-tiba ada polisi yang menghadang
dan para pengendara speda motor dimasukkan dalam komples ruko, di situ para
pengendara bermotor ditanya perlengkapannya, karena saya belum 17th belum
mempunyai SIM saya pun ketilang, STNK di bawa polisi dan ditanya mau “mau bayar 50rb di sini atau besok di
pengadilan ?” karena baru pertama kali ketilang teman saya pun lagsung
memberi 50rb kepada polisi dan STNK nya pun dikembalikan dan kami melanjutkan
perjalanan. “sukur we, wes tak kandhani
kok ngeyel” mungkin itu ujar yang momong saya. Di situ saya sudah dikasih
tau oleh yang momong saya namun saya tidak laksanakan, sama seperti ketika
orang lain memberi tahu kepada kita yang benar namun kita tidak melaksanakan.
#
HAPEKU DOLAN SEMINGGU
Ketika
kegiatan pramuka di sekolah berlangsung, kegiatan berjalan lancar dan seperti
biasanya, karena saya ketua sangga dan sayapun harus berada di barisan depan. Semua
tas anggota pramuka berada di belakang barisan, jadi ketika baris-berbaris kita
tidak bisa melihat keadaan tas. Ketika saya disuruh untuk mengambil bolpen di
tas saya, sayapun langsung menuju ke belakang dan mengambil bolpen sekaligus
mengecek apakah hape saya masih ada. Lalu saya balik kebarisan depan selang
bberapa menit “duugh...” saya membayangkan bahwa hape saya tidak ada di dalam
tas, di situpun saya merasa kehilangan namun saya cuek “ahh.. yoben mung bayangan tok” kegiatan pramuka sudah selesai,
lalu saya langsung ngecek apakah hape saya masih ada. Ketika saya cek ternyata
bayangan tadi benar bahwa hape saya akan hilang “faak...” Tiba-tiba saya membayangkan bahwa yang mengambil hape
saya itu Si Kae aku pun pulang dan
bilang kepada ibu saya bahwa hapeku hilang lalu ditanya “lha kok iso ilang ki kepiye ?” aku menjawab seperti uraian di
atas. Bapak saya juga bertanya persis sperti ibu saya, dan saya jawab sama
seperti uraian di atas. Pada malam hari ketika saya tidur, saya mimpi bahwa
besok aku megang hape itu lagi. Keesokan harinya saya diajak bapak saya untuk
liat-liat hape, sayapun disuruh milih mau yang mana (second) “wahh
rasah pak, aku tak nggo hapene emas wae” di sini saya fokus pada mimpi
malam tadi. Satu minggu berlalu hapeku kembali ke tangan saya dengan isi album
foto-foto bugil dan SIM CARD hilang. “maling’e
goblok pekok we” ujar saya.
Dengan kembalinya hapeku ini aku bercerita kepada bapak dan ibu bahwa malam setelah kejadian itu saya bermimpi bahwa saya memegang hape itu lagi, jadi saya tidak mau ketika ditawari untuk memilih hp. Dengan kejadian ini pun saya malas untuk berangkat pramuka jadi sering bolos.
Dengan kembalinya hapeku ini aku bercerita kepada bapak dan ibu bahwa malam setelah kejadian itu saya bermimpi bahwa saya memegang hape itu lagi, jadi saya tidak mau ketika ditawari untuk memilih hp. Dengan kejadian ini pun saya malas untuk berangkat pramuka jadi sering bolos.
Dengan 2
cerita di atas bahwa yang momong kita itu sebenarnya itu ada dan nyata, hal
ghaib tanpa wujud dan suara melainkan melalui pemikiran, bayangan, hati dan
bisa menggunakan hal yang lainnya. Intinya ketika batin atau pikiran kita
tiba-tiba “duugh..” itu akan terjadi
secara nyata. “wooh... kuwi wes apik,
umurmu seng iseh semono kowe wes
akrab karo lhe momong kowe” ujar Om Siwandhana. Jadi keakrabpan kalian
dengan yang momong kalian itu juga tidak menentu kpan keakrabpanya akan
terjalin.
Selamat malam kawan !


Tidak ada komentar:
Posting Komentar